Pendidikan Pragmatik dalam Kehidupan Sehari-hari

Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari penggunaan bahasa dalam konteks tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, pragmatik memainkan peranan penting dalam komunikasi kita. Ketika kita berinteraksi dengan orang lain, apa yang kita katakan tak hanya bergantung pada arti kata-kata itu sendiri, tetapi juga pada konteks, situasi, dan hubungan antara pembicara dan pendengar. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi bagaimana pragmatik mempengaruhi komunikasi sehari-hari kita melalui berbagai aspek.

Peran Konten dan Konteks

Salah satu aspek utama pragmatik adalah konteks. Misalnya, pertanyaan sederhana seperti “Apakah kamu sudah makan?” dapat memiliki berbagai makna tergantung pada situasi. Jika seseorang menanyakannya dalam konteks santai, bisa jadi itu hanya sebuah bentuk sapaan. Namun, dalam konteks yang berbeda, seperti saat seseorang sedang terlihat lelah, pertanyaan tersebut bisa jadi lebih bersifat perhatian. Ini menunjukkan bahwa konteks sangat mempengaruhi interpretasi pesan.

Contoh lain bisa dilihat dalam situasi formal dan informal. Dalam sebuah rapat, seorang bos mungkin mengatakan “Apakah semua orang siap untuk melanjutkan?” dengan nada yang menunjukkan bahwa dia ingin segera memulai. Namun, dalam situasi santai, pertanyaan yang sama bisa jadi hanya berarti dia ingin memastikan semua orang tidak keberatan untuk melanjutkan diskusi.

Implicature dan Maxime Grice

Implicature adalah konsep lain yang penting dalam pragmatik. Ini merujuk pada apa yang diimplikasikan oleh pembicara tanpa secara langsung mengatakannya. Filosof H.P. Grice mengemukakan beberapa prinsip yang dikenal sebagai “maxime”. Misalnya, prinsip kesesuaian yang menyatakan bahwa pembicara seharusnya memberikan informasi yang relevan dengan topik pembicaraan.

Dalam praktiknya, jika seseorang berkata, “Ini sudah cukup terang,” ketika terang sudah mulai redup, mungkin dia sebenarnya ingin menyampaikan bahwa mereka sebaiknya menyalakan lampu. Hal ini mencerminkan bagaimana orang terkadang berkomunikasi tanpa harus mengatakan dengan tegas apa yang mereka inginkan atau butuhkan.

Perlunya Menghormati Normatif Sosial

Dalam budaya kita, keberadaan norma sosial dan etika juga mempunyai peranan penting dalam pragmatik. Misalnya, dalam kebudayaan Indonesia, terdapat nilai sopan santun yang sangat dijunjung tinggi. Ketika seseorang mengunjungi rumah orang lain, seringkali dia akan ditanya, “Mau minum apa?” Pertanyaan ini sebenarnya lebih kepada menawarkan keramahan, dan bukan sekadar pertanyaan literal tentang pilihan minum.

Dalam konteks lain, dalam situasi kerja, ungkapan seperti “Apakah kamu bisa membantu saya dengan laporan ini?” bisa jadi memiliki implikasi yang lebih dalam. Kalimat ini bisa berupa permintaan langsung kepada rekan kerja, tetapi juga menunjukkan adanya kepercayaan dan penghargaan terhadap kemampuan rekan tersebut.

Non-Verbal dalam Komunikasi

Pragmatik tidak hanya berkutat pada kata-kata yang diucapkan, tetapi juga mencakup komunikasi non-verbal. Gestur, ekspresi wajah, dan intonasi suara semua berperan dalam membangun makna. Ketika seseorang berkata “Selamat pagi” dengan senyum lebar, itu mungkin dianggap sebagai bentuk keakraban, sementara jika diucapkan dengan nada datar tanpa ekspresi, dapat mengindikasikan ketidakberminatan.

Komunikasi non-verbal sangat penting dalam situasi yang sensitif. Dalam situasi menghibur teman yang sedang berduka, kehadiran fisik dan pelukan mungkin lebih berharga daripada kata-kata pendukung yang diucapkan. Dalam hal ini, pengertian dan empati dapat tersampaikan lebih efektif melalui tindakan dibandingkan ucapan.

Kekeliruan Dalam Memahami Pragmatik

Meskipun pragmatik sangat membantu dalam memahami komunikasi, seringkali terjadi salah pengertian. Misalnya, jika seseorang asal memberi komentar “Wah, asik banget ya liburan ke Bali” saat mendengar seseorang yang baru kembali dari liburan, bisa saja itu dimaksudkan sebagai pujian tentang keindahan Bali, namun bisa juga dianggap sebagai sindiran jika ada konteks yang tidak mendukung.

Sebagai contoh, di dalam sebuah diskusi kelompok, jika salah satu anggota mengatakan, “Kita mungkin perlu mempertimbangkan alternatif lain,” hal ini bisa dianggap sebagai saran yang konstruktif. Namun, jika dalam konteks yang berbeda, bisa dianggap meremehkan ide awal yang sudah diajukan.

Dalam membangun komunikasi yang lebih baik, penting bagi kita untuk menyadari nuansa-nuansa ini serta mengembangkan kemampuan untuk membaca konteks agar interaksi kita dengan orang lain lebih efektif dan menyenangkan.